AYAH ATAU WISUDA ?





Tahun itu, aku sebut sebagai taun kesedihan. Ayah yang sering aku banggakan, pergi. Menemui Tuhanya dan Tuhanku, semoga Ayah tidak marah kalau aku perokok. Diam, kamu jangan bilang ayahku !
          Sebelum aku berangkat kuliah, ayah dengan cerutu rokoknya berpesan
“nak, hati hati di jalan. Ingat jangan merokok di kampus”
“hehe iya yah, eh Ayah ngerokok tapi bilang sama anaknya jangan ngerokok, aneh” dengan nada kesal aku bergumam
“hehe Ayah kan sedang mengurangi populasi rokok nak, jadi ayah beli rokok biar stock dipabrik habis dan bangkrut perusahannya”
“analisis yang absurd yah” gumam dalam hati
Tahun itu, aku semester akhir. Hanya beberapa bulan menuju wisuda, aku sangat menanti hari itu, bagaimana bisa berswafoto bersama keluarga. Ah senangnya
Kamu tahu, ayahku itu laki-laki, yang bisa merapihkan rumah kalau ibu sedang sakit, yang bisa menyuapi anak-anaknya kala ibu sedang demam tinggi.
Ayah adalah ayahku, kau harus iri kepadaku !
2 hari sebelum wisuda, ayah masuk rumah sakit. Kata ibuku, ayah terlalu banyak merokok. Paru-parunya sudah gawat, aku liat dibalik jendela, ayah tidak sadar. Saat itu, ayah tidak riang sebagaimana sebelumnya, yang selalu menyapa saat anak-anaknya datang, tidak pernah tertidur saat anak-anaknya terjaga. Tapi hari ini beda, dalam hatiku “ayah bangun rumahmu bukan disini ! “
Aku senang saat 2 hari tak sadarkan diri, ayah terjaga. Ayah tak lupa tersenyum pada anak-anaknya dan selalu bertanya
“hey apakabar kalian, gimana sekolah kalian ?”
Aku tidak menjawab, aku hanya tersenyum. Semoga itu memberikan jawaban kepada Ayah.
“bang, bukannya hari ini kamu diwisuda ya ? ko kamu masih disini ” dengan suara tertatih
“hehe”
“buruan berangkat ke kampus dan diwisudalah kamu ! kamu harus merayakan perjuangan yang melelahkan ini nak”
“aku ingin bersama Ayah”
“jangan lebay gitu kamu, hehe buruan berangkat”
Aku nurut perintah Ayah, aku lihat kondisi ayah sudah membaik. Aku berangkat dan aku bodoh
Saat aku sedang menunggu dimulainya acara wisuda, suara ponselku berbunyi. Ibu menelepon
“cepat kamu kesini, ayah kamu !!!!!!”
“ayah kenapa ??” aku tanya mendesak
Ibu tidak menjawab lagi, yang terdengar hanya suara isak tangis ibu. Aku segera menuju rumah sakit, dan aku berlari.
Sampai pada ruangan ayah, semua tertunduk.
“Ayah kenapa bu” aku tanya ibu
Ibu tidak menjawab, hanya memelukku dengan erat. Aku coba menahan air mata yang sudah di ujung.
Aku mendekat pada tubuh ayah, ayah hanya terdiam.
“ayah” berbisik pelan
“ayah”berbisik pelan
“ayah, aku sudah diwisuda. Ayah harus bangun, ayo kita berswafoto yah” aku membujuk pelan
Paman memelukku sangat erat
“ayahmu sudah pergi nak, menemui tuhannya dan tuhanmu”
Saat kalimat itu keluar dari paman, aku hanya terdiam lemas. Aku pikir, ini enggak lucu. Ayah pasti bangun kembali, dia orang kuat ko. Kamu harus percaya !
“ayah sudah pergi” ibu memeluku dengan erat
Saat itu, saat mataku mengalir. Tak bisa kutahan lagi, aku harus menerima kenyataan ini.

Ayah di makamkan di desa tempat ia lahir, sampai hari ini aku masih menyesali. Kenapa aku harus pergi diwisuda dan tidak menemani waktu terakhir bersama ayah. Ini bodoh sekali

Ayah, aku tidak membencimu. Aku hanya membencimu saat menghisap rokok.
Ayah, seharusnya aku bilang saat kau terbaring lemah diranjang itu
 “masih banyak hari kuliah tapi Ayah Cuma satu-satunya”

Dan kamu, bersayanglah pada ayahmu.


Kisah temanku, yang aku tulis di meja butut pemberian tetangga dan belum sarapan.









Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "AYAH ATAU WISUDA ?"

  1. Kau juga seharusnya iri dengan ayahku!! Karena ayahku lebih tampan dibandingkan dengan anaknya

    ReplyDelete