Cinta bahkan
mengalahkan kecepatan cahaya, lebih rumit dari rumus matematika dan lebih indah
dari sunset manapun. Kadang menjelma seperti buasnya piranha di lautan atau
tercandunya manusia gila dengan sebatang rokok, ini cinta dan begitulah cinta. –Rijal
Mujaer-
Cinta itu seperti
dua mata pedang, ada penerimaan dan penolakan dan aku sudah nasibnya, tertolak
! – prasetyo budi pekerti
Cinta itu yang terpenting
T nya, tanpa T jadi cina – Bill gils
Cinta itu
irrasionalitas, bisa mengkuruskan yang gemuk, mewaraskan yang sehat dan
menakutkan yang pemberani – ahmad zuki auh hah
Quotes itu aku temukan di kamar mereka
masing-masing, aku salut. Mereka pandai sekali mendefinisikan cinta, padahal
jangankan bermain cinta, menyentuhnya pun tidak. Aku pastikan mereka tidak homo
apalagi biseksual. Tidak! Mereka sebagaimana mestinya, normal sejak lahir. Dan
jomblo dari lahir.
Aku ingin bercerita dengan temanku,
bahwa aku sedang jatuh cinta. Merasakan dan menikmati proses ini, ada rindu
jadi candu, sialan. Kepada siapa ? nanti aku jelasan
Di awal agustus sebelum hari
kemerdekaan, di menyapaku “hey”
“hehey” jawab aku gugup
“mau kemana ?” tanya
dia
“ke atas ! nunjuk
awan
“ke surga ? ” tanya
bingung dia
“ hehe enggalah, ada
kelas” jawab aku
“ pelajaran pak budi
? ”
“bukan, kamu mau
kemana ? ”
“rapat hehe ”
“shaaf-nya ?” tanya
aku
“hehe apasih garing
tau haha ”
“haha, aku duluan ”
“hati hati dam”
“iya”
Benar saja petuah
dari temanku, cinta itu lebih rumit dari matematika. Coba kalian bisa jelaskan,
aku mulai jatuh cinta saat dia mengatakan “hati-hati”. Hanya karena kalimat “hati
hati” lho ! rumit sekali cinta (ngeluh)
Setelah itu, aku tidak ingin membuang
kesempatan. Aku mulai menulis puisi-puisi klasik dan anekdot yang agak kegaringan
untuk ku berikan kepadanya. 5 hari, 6 hari 10 hari aku tidak bertemu si dia.
Dia kemana ? seperti
hilang bak munir tanpa kabar, aku mulai panik. Gimana dan kemana ?
Ternyata dia sakit. Aku
sedih, bagaimana mungkin aku tidak tahu. Saat itu belum musim gojek, aku naik
ojek menuju rumah sakit. Ngeng (naek motor ojek). Sampai disana, ruangan sepi
hanya terlihat dia bersama orang yang sedang menunggunya.
Saat itu, aku memang
sengaja membawa puisi-puisi dan anekdot tak lucu itu dalam secarik kertas,
memberikannya dan semoga dia terhibur. Aku berjalan pelan, deg-deg an menuju
tempat tidurnya. Dia menoleh ke arahku
“hey dam” menyapa
pelan
“hey” “aku gugup”
“duduk bro” suruh seseorang
yang belum aku kenali
“eh iya bro gapapa
santai aja”
Aku duduk di depan
dia, sementara orang yang belum aku kenali ke belakang dan bersandar di sofa
merah.
“kamu sakit dari hari apa ?”
“ udah 7 hari dam”
“pantesan”
“pantesan kenapa ?”
“langitnya mendung
terus”
“hehe bisa aja”
“aku punya sesuatu
buat kamu”
“ah sudah banyak
roti yang aku terima hari ini dam”
“eh aku gak bawa
roti, Cuma kertas”
“kertas ? hasil
ujian ku ?”
“bukan hehe”
“terus apa”
“nanti kamu buka
kalau sudah pulih”
“oke hehe”
Sedang percakapan
asik, si dia tiba-tiba memanggil seseorang yang belum aku kenali.
“yang ambilin kue
dong”
Saat itu aku sedang
tersenyum bahagia karena ada disamping dia, namun setelah si dia memanggil
seseorang dengan kata “yang”, wajahku langsung mengerucut asam.
“Yang” ?
tunggu-tunggu. Maksud si dia manggil seseorang itu dengan kata “yang” apa
maksudnya ? aku coba menenangkna diri, mendingkan kepala yang hampir muncrat
seketika. Bisik dalam hatiku “ouh mungkin dia itu namanya si eyang, atau
kaeyang” tapi tetep saja aku penasaran, aku memberanikan diri bertanya kepada
si dia.
“itu siapa ri ?”
“ouh, kenalin dam ,
aku hampir lupa. Itu pacar baru aku”
PACAR ??? melotot
PACAR ??? melotot
PACAR ??? melotot
Seketika, ruangan
tanpa gravitasi. Melayang-layang semu ke ke atas seperti tahu, bahwa hatiku
hancur.
Aku pulang, dengan
wajah semrawut dan pikiran kacau. Diluar tukang ojek masih menunggu, padahal
aku tidak ingin memakai jasanya lagi.
“Kenapa bang masih nungguin ? “ ucap kesal
“Etdah lukan belum
bayar ”
Ah, sudah jatuh
tertimpa tangga pula. Sialan,
Dia adalah riri, yang sedang bahagia
bersama si pala peyang. Sudah nasibku nian, begini adanya. Sialan.
Aku tutup dengan
quotes dari teman baik ku prasetyo budi pekerti
Cinta itu seperti dua mata pedang, ada
penerimaan dan penolakan dan aku sudah nasibnya, tertolak ! – prasetyo budi
pekerti
ditulis di madinah tangerang, 2017 dan belum sarapan
ditulis di madinah tangerang, 2017 dan belum sarapan

Kisah yang sangat mengilhamiku 😉
ReplyDelete