RIRI YANG BERDIKARI (1)


Cinta bahkan mengalahkan kecepatan cahaya, lebih rumit dari rumus matematika dan lebih indah dari sunset manapun. Kadang menjelma seperti buasnya piranha di lautan atau tercandunya manusia gila dengan sebatang rokok, ini cinta dan begitulah cinta. –Rijal Mujaer-
Cinta itu seperti dua mata pedang, ada penerimaan dan penolakan dan aku sudah nasibnya, tertolak ! – prasetyo budi pekerti
Cinta itu yang terpenting T nya, tanpa T jadi cina – Bill gils
Cinta itu irrasionalitas, bisa mengkuruskan yang gemuk, mewaraskan yang sehat dan menakutkan yang pemberani – ahmad zuki auh hah

          Quotes itu aku temukan di kamar mereka masing-masing, aku salut. Mereka pandai sekali mendefinisikan cinta, padahal jangankan bermain cinta, menyentuhnya pun tidak. Aku pastikan mereka tidak homo apalagi biseksual. Tidak! Mereka sebagaimana mestinya, normal sejak lahir. Dan jomblo dari lahir.
          Aku ingin bercerita dengan temanku, bahwa aku sedang jatuh cinta. Merasakan dan menikmati proses ini, ada rindu jadi candu, sialan. Kepada siapa ? nanti aku jelasan
          Di awal agustus sebelum hari kemerdekaan, di menyapaku “hey”  
“hehey” jawab aku gugup
“mau kemana ?” tanya dia
“ke atas ! nunjuk awan
“ke surga ? ” tanya bingung dia
“ hehe enggalah, ada kelas” jawab aku
“ pelajaran pak budi ? ”
“bukan, kamu mau kemana ? ”
“rapat hehe ”
“shaaf-nya ?” tanya aku
“hehe apasih garing tau haha ”
“haha, aku duluan ”
 “hati hati dam”
“iya”

Benar saja petuah dari temanku, cinta itu lebih rumit dari matematika. Coba kalian bisa jelaskan, aku mulai jatuh cinta saat dia mengatakan “hati-hati”. Hanya karena kalimat “hati hati” lho ! rumit sekali cinta (ngeluh)
          Setelah itu, aku tidak ingin membuang kesempatan. Aku mulai menulis puisi-puisi klasik dan anekdot yang agak kegaringan untuk ku berikan kepadanya. 5 hari, 6 hari 10 hari aku tidak bertemu si dia.
Dia kemana ? seperti hilang bak munir tanpa kabar, aku mulai panik. Gimana dan kemana ?
Ternyata dia sakit. Aku sedih, bagaimana mungkin aku tidak tahu. Saat itu belum musim gojek, aku naik ojek menuju rumah sakit. Ngeng (naek motor ojek). Sampai disana, ruangan sepi hanya terlihat dia bersama orang yang sedang menunggunya.
Saat itu, aku memang sengaja membawa puisi-puisi dan anekdot tak lucu itu dalam secarik kertas, memberikannya dan semoga dia terhibur. Aku berjalan pelan, deg-deg an menuju tempat tidurnya. Dia menoleh ke arahku
“hey dam” menyapa pelan
“hey” “aku gugup”
“duduk bro” suruh seseorang yang belum aku kenali
“eh iya bro gapapa santai aja”
Aku duduk di depan dia, sementara orang yang belum aku kenali ke belakang dan bersandar di sofa merah.
 “kamu sakit dari hari apa ?”
“ udah 7 hari dam”
“pantesan”
“pantesan kenapa ?”
“langitnya mendung terus”
“hehe bisa aja”
“aku punya sesuatu buat kamu”
“ah sudah banyak roti yang aku terima hari ini dam”
“eh aku gak bawa roti, Cuma kertas”
“kertas ? hasil ujian ku ?”
“bukan hehe”
“terus apa”
“nanti kamu buka kalau sudah pulih”
“oke hehe”

Sedang percakapan asik, si dia tiba-tiba memanggil seseorang yang belum aku kenali.

“yang ambilin kue dong”
Saat itu aku sedang tersenyum bahagia karena ada disamping dia, namun setelah si dia memanggil seseorang dengan kata “yang”, wajahku langsung mengerucut asam.

“Yang” ? tunggu-tunggu. Maksud si dia manggil seseorang itu dengan kata “yang” apa maksudnya ? aku coba menenangkna diri, mendingkan kepala yang hampir muncrat seketika. Bisik dalam hatiku “ouh mungkin dia itu namanya si eyang, atau kaeyang” tapi tetep saja aku penasaran, aku memberanikan diri bertanya kepada si dia.
“itu siapa ri ?”
“ouh, kenalin dam , aku hampir lupa. Itu pacar baru aku”
PACAR ??? melotot
PACAR ??? melotot
PACAR ??? melotot
Seketika, ruangan tanpa gravitasi. Melayang-layang semu ke ke atas seperti tahu, bahwa hatiku hancur.
Aku pulang, dengan wajah semrawut dan pikiran kacau. Diluar tukang ojek masih menunggu, padahal aku tidak ingin memakai jasanya lagi.

“Kenapa bang masih nungguin ? “ ucap kesal
“Etdah lukan belum bayar ”
Ah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sialan,

          Dia adalah riri, yang sedang bahagia bersama si pala peyang. Sudah nasibku nian, begini adanya. Sialan.
Aku tutup dengan quotes dari teman baik ku prasetyo budi pekerti

Cinta itu seperti dua mata pedang, ada penerimaan dan penolakan dan aku sudah nasibnya, tertolak ! – prasetyo budi pekerti 

ditulis di madinah tangerang, 2017 dan belum sarapan

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "RIRI YANG BERDIKARI (1)"