dini hari, di ruang tunggu saur.
Menunggangi
motor yang seolah menuju pada tenggelamnya matahari sore. Temanku, Irwan membuka
dialog berpikir.
Romadon
teh jiga teu romadon aing mah (irwan)
Translate
: ( ko bulan ramadhan kaya ga bulan ramadhan
)
Naha si ?
Translate : (kenapa gitu ?)
Tidak dijawab, irwan mungkin lupa. Dia kira
percakapan tadi terjadi pada chat whattsap, sehingga dengan mudahnya dia
mengambil sikap “READ”. Atau mungkin, jawaban irwan, di peluk oleh angin dan
dibawanya pergi entah kemana sehingga tidak berhasil ditangkap oleh kedua
receiver my ear. Atau mungkin juga, gue congean. Mungkin. *tar dulu, ko telinga
gue basah ya.
Kalau kita bertanya pada lubuk hati yang . . bukan terdalam *bego
Hati yang jujur, rasanya gue sependapat dengan
pertanyaan itu.
Ko
bulan ramadan kaya ga bulan ramadhan ya.
Whyyy gitu loh . . why . . . .
Lalu pada siapa kita menunjuk salah ? pada diri sendiri ? atau memang bulan romadon yang salah, jangan jangan, selama ini, sejauh ini, MUI salah ngitung bulan, yang sebenarnya ini BUKAN BULAN ROMADON. Jangan- jangan ini hanyalah sebuah alih konsiprasiiii besar ala wahyuningsih . . ahh tidak . .
*lebay ajg
Mungkin lagu ebiet g ade bisa menggambarkan
suasana konflik internal ini, lagunya gini. Tengoklah
kedalam sebelum bicara . . atau lagu ini tetew . . tetew . . tetretetew tew tew tew *tiktok kamfret
#Back to topik
Ramadhan sudah berjalan pada semestinya, kalau ramadhan adalah salah satu diantara benda benda langit. Ia sudah berjalan pada porosnya atau jika kita berdalih dalam agama, ia berada dalam ketaatan kepada sang penciptanya.
Tulisan ini, jelas warnanya. Yaitu mengajak .
.
Mengajak kita berpikir, mengajak kita
merenungi sejenak. Tentang pertanyaan sederhana, pertanyaan kelas dasar pada
tingkatan kurikulum.
Apakah
kita tahu esensi bulan Romadon ?
Apakah Romadon hanya sebatas menahan haus dan
lapar, lalu membuat jadwal buka bersama dengan teman atau kekasih ? apakah
makna ramadhan begitu sempit, hingga kita lupa menyediakan ruang berpikir ?
Ramadhan sebulan, lalu tanpa arti. Ramadhan sebulan,
haus dan lapar tanpa makna. Ramadhan sebulan, seperti tanaman tak berbunga.
Tulisan tanpa kesimpulan . . sekian . . muah *-p

Belum ada tanggapan untuk "Romadon, apa telah hilang ke Romadonan-nya ?"
Post a Comment