DIALOG SETELAH RUMAH SAKIT (LANJUTAN RIRI)




Sambil menunggu tanda tangan pengesahan judul program oleh pembimbing, prasetyo budi pekerti memulai obrolan.

“Sudah jangan sedih seu, mulai sekarang lu harus lupain riri”
“gak bisa”
“kenapa ?”
“cantik”
“elah, masih banyak wanita cantik”
“itu menurutmu”
“emang  riri cantik banget ya sampe lu kaya gini ?”
“engga banget, biasa aja. Kan cinta mah rumit”
“dia udah punya pacar seu”
“iya” jawab aku
“harus dilupain seu” tegas di pras
“iya” jawab aku
“siapa coba ?” tanya si pras
“pacarnya si riri, bukan riri nya” aku ketawa
“riri nya seu ! ”
“jangan, melupakan itu pekerjaan yang bodoh. Yang melakukannya adalah pecundang”
“terus ?”
“aku akan terus mengingatnya, sampai kapanpun”
“kalau si riri menikah gimana ?” tanya si pras
“alhamdulillah dong, sama aku kan ? ” aku ketawa
“heuheuheu”

Saat lagi asik ngobrol dengan si pras, dari kejauhan teman baikku si bill gils datang dengan muka sipit, kulit putih jalan ngangkang, hidung meler dan jenggot serabut.
“asalamulaikum ya  ahlu asmara” salam bill gils
“walaikumsalam koh” pras jawab
aku ketawa
“idih kayanya lagi ngobrol serius ini sih, eh ngomong-ngomong gimana si riri seu ?  ” tanya bill gils
“kabar buruk” jawab aku
“kenapa ?” tanya bill gils dengan mata sipit sambil melotot
“dia udah punya pacar cuy” jawab pras
“serius gak sih”
“iya” jawab aku
“aduh, tenang seu gue punya banyak kenalan cewek”
“gak mau” jawab aku
“kenapa ?”
“mau nya riri ” jawab aku
“kaya anak kecil lu seu”
“hahaha”
Obrolan singkat itu berakhir dengan sebab, dosen pembimbing sudah datang.

Kalau kata si pras, riri itu harus dilupakan. Aku gak setuju, karena melupakan adalah pekerjaan yang bodoh, terlalu pecundang yang melakukannya. Riri itu hanya sedang dititipkan kepada selain aku, tunggu saja nanti pun bersamaku. Aku keras kepala ? iya. Sejenis pertandingan di sebuah arena, pemenang akan kalah terlebih dahulu.
Tapi, mengganggu riri dan si pala peyang itu tidak dibenarkan, bukan sifat seorang pemenang. Aku lebih memilih menjauh sementara, menunggu waktu yang tepat. Anggap saja ini sedang mengatur strategi.

Dan terakhir, mengutip kalimat dari teman baikku, rijal mujaer.
“Patah hati seperti patah kuku, ia akan tumbuh sewaktu waktu.”


Ditulis di madinah tangerang, diatas meja butut dan laptop ngorok tapi udah sarapan, 2017.








Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "DIALOG SETELAH RUMAH SAKIT (LANJUTAN RIRI)"

Post a Comment