Sambil menunggu tanda tangan pengesahan judul program oleh pembimbing, prasetyo budi pekerti memulai obrolan.
“Sudah jangan sedih
seu, mulai sekarang lu harus lupain riri”
“gak bisa”
“kenapa ?”
“cantik”
“elah, masih banyak
wanita cantik”
“itu menurutmu”
“emang riri cantik banget ya sampe lu kaya gini ?”
“engga banget, biasa
aja. Kan cinta mah rumit”
“dia udah punya
pacar seu”
“iya” jawab aku
“harus dilupain seu”
tegas di pras
“iya” jawab aku
“siapa coba ?” tanya
si pras
“pacarnya si riri,
bukan riri nya” aku ketawa
“riri nya seu ! ”
“jangan, melupakan
itu pekerjaan yang bodoh. Yang melakukannya adalah pecundang”
“terus ?”
“aku akan terus
mengingatnya, sampai kapanpun”
“kalau si riri
menikah gimana ?” tanya si pras
“alhamdulillah dong,
sama aku kan ? ” aku ketawa
“heuheuheu”
Saat lagi asik
ngobrol dengan si pras, dari kejauhan teman baikku si bill gils datang dengan
muka sipit, kulit putih jalan ngangkang, hidung meler dan jenggot serabut.
“asalamulaikum
ya ahlu asmara” salam bill gils
“walaikumsalam koh”
pras jawab
aku ketawa
“idih kayanya lagi
ngobrol serius ini sih, eh ngomong-ngomong gimana si riri seu ? ” tanya bill gils
“kabar buruk” jawab
aku
“kenapa ?” tanya
bill gils dengan mata sipit sambil melotot
“dia udah punya
pacar cuy” jawab pras
“serius gak sih”
“iya” jawab aku
“aduh, tenang seu
gue punya banyak kenalan cewek”
“gak mau” jawab aku
“kenapa ?”
“mau nya riri ”
jawab aku
“kaya anak kecil lu
seu”
“hahaha”
Obrolan singkat itu
berakhir dengan sebab, dosen pembimbing sudah datang.
Kalau kata si pras,
riri itu harus dilupakan. Aku gak setuju, karena melupakan adalah pekerjaan
yang bodoh, terlalu pecundang yang melakukannya. Riri itu hanya sedang
dititipkan kepada selain aku, tunggu saja nanti pun bersamaku. Aku keras kepala
? iya. Sejenis pertandingan di sebuah arena, pemenang akan kalah terlebih
dahulu.
Tapi, mengganggu
riri dan si pala peyang itu tidak dibenarkan, bukan sifat seorang pemenang. Aku
lebih memilih menjauh sementara, menunggu waktu yang tepat. Anggap saja ini
sedang mengatur strategi.
Dan terakhir, mengutip
kalimat dari teman baikku, rijal mujaer.
“Patah hati seperti patah kuku, ia akan
tumbuh sewaktu waktu.”
Ditulis di madinah
tangerang, diatas meja butut dan laptop ngorok tapi udah sarapan, 2017.

Belum ada tanggapan untuk "DIALOG SETELAH RUMAH SAKIT (LANJUTAN RIRI)"
Post a Comment