Sidang ? hahaha.
Jadi, kemarin aku sidang, sidang
kemarin itu sebagai proses dimana sebuah konsep akan dikritisi, dibredeli dan
di cubak-cabik oleh dosen dosen tersayang. Kebetulan aku dapet giliran nomer 2,
bagiku itu bukan masalah meskipun belum siap.
Si bangPaul, nanya sama aku 10 menit
sebelum sidang dimulai.
“dam mana kertas
proposal buat team ?”
“gak ada bang, lupa
belum print out”
“eh serius lu ?
terus gimana ? masa gak pegang masing masing orang ? ”
“tenang bang, kita
pegang satu orang satu lembar aja.” Memberi solusi konyol
Aku bagiin satu
orang satu lembar laporan proposal, si zaki pegang cover. Si bang pul pegang
halaman satu, si isal pegang halaman dua, si adut pegang halaman tiga dan
seterusnya. Yang parah si riyan, cuma pegang kertas kosong.
“anjing masa cuma
satu lembar dam ? kelompok bangsat emang ini ” sambil ketawa
“haha” semua ketawa
Di dalam ruangan
sidang, kita di bantai. Proposal kita ditolak ! lemas lunglai, hidung meler dan
mata beler. huhuy
“Aduhai indah
syekali, dimanakah ratu penolong saat ini ? oh sungguh aku membutuhkanmu “ adut
nyanyi sambil menghisap rokok
“haha tenang dut,
masih ada plan B”
“betul, santai aja. Kan
penolakan mah sebuah proses untuk menuju penolakan berikutnya. Ya engga ? ”
isal nimpal sambil ketawa serak
Pembantaian ini
harusnya masuk ke dalam kasus yang berat, selain melanggar Hak Asasi Manusia ,
tindakan ini disinyalir semena-mena dan
sepihak.
Setelah itu, kami
melakukan muktamar di saung kampus. Konsolidasi dari hulu hingga ke hilir,
diskusi ringan menghiasi isi dialog di atas meja.
Memang, dimana-mana.
Di timur, barat, selatan atau utara, penolakan selalu menyakitkan, meskipun
ditutupi dengan kalimat bijak. Tapi kami percaya, penolakan adalah bagian dari
kehidupan, partikel ini tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia dan
system semesta. Bahkan sekelas Muhammad, Jesus, Moses hingga Abraham semua
mengalami fase penolakan.
Perihal sidang kami,
kami tidak terlarut dalam kesedihan. Secukupnya, kita perlu jatuh tapi juga perlu
bangkit.
Seperti petuah dosen pembimbing kami “Kita
perlu mundur satu langkah ke belakang untuk melangkah lebih jauh ke depan”
Ditulis di madinah tangerang, bersama sari
roti dan aku suka kata itu.
Belum ada tanggapan untuk "KISAH SIDANG KEMARIN"
Post a Comment